Kamis, 10 Juli 2008

Menuju Sukses dengan Penuh Percaya Diri

Kita mungkin tidak menyadari, bahwa penyebab utama kegagalan datangnya dari diri kita sendiri. Tak lain hal tersebut dikarenakan oleh pikiran dan perasaan bawah sadar negative yang serba ragu, takut gagal, bahkan malu, serta ketidakstabilan emosi dan hawa nafsu yang menyertainya.

Seseorang yang sebenarnya cerdas, kreatif, berwawasan dan unggul di bidangnya, bisa jadi tersingkir dari persaingan ujian, seleksi kerja, maupun tes promosi jabatan hanya karena factor ketidakmantapan emosi dan rasa percaya diri yang rendah dalam menghadapi persaingan. Ketika materi persiapan sebenarnya sudah terserap dan terekam dengan baik, materi tersebut tiba-tiba bisa hilang dari ingatan, terpengaruh emosi stress dan kegugupan yang luar biasa.

Tingkat intelegensia (IQ) bukanlah satu-satunya faktor penentu kesuksesan. Kecerdasan otak saja tidak cukup menghantarkan seseorang mencapai kesuksesan. Pengendalian emosi yang baik berupa kestabilan emosi, dan kemantapan emosi, menjadi factor penting penentu kasuksesan hidup seseorang.



Selasa, 08 Juli 2008

Menghargai hidup dan belajar lebih sukses

Pernahkah kita mengalami kegagalan? Mungkin kita semua pernah merasakannya. Ketika kita mencoba sesuatu, ada kalanya kita gagal. Nah, bagaimana kita menyikapi hal tersebut? Kita harus siap dengan hasil yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan keinginan. Bila hasil tidak sesuai dengan keinginan , bisa jadi itulah yang terbaik menurut Allah SWT. Bisa jadi kegagalan tersebut merupakan jalan menuju sukses besar yang harus kita lalui terlebih dahulu. Karena setiap jengkal kehidupan kita sudah direncanakan oleh Allah SWT dengan kandungan banyak sekali hikmah pembelajaran.Sebuah proses belajar menuju prestasi yang lebih baik. Kalau kita sudah mencoba, maka niatnya saja sudah menjadi nilai amal. Sesungguhnya orang yang gagal adalah orang yang tidak pernah berani mencoba. Bukankah menaiki tangga ke lima puluh harus diawali dengan tangga pertama.
Kita harus benar-benar menyadari bahwa Allah selalu mempunyai rencana untuk kita, Allah menciptakan kita dengan perhitungan dan pertimbangan yang maha cermat.
Setiap perjalanan sukses seseorang, di dalamnya pasti ada antusiasme, hasrat, ketekunan, kerja keras dan kebulatan tekad. Dalam hal ini kematangan pribadi yang dibutuhkan. Sebab kematangan pribadi akan mengantarkan seseorang pada sikap optimis dan kesadaran bahwa apa yang dicita-citakan akan mudah diraih.
Manusia memiliki potensi yang kita kenal dengan IQ ( Intelegence Quotient ), EQ ( Emotional Quotient ), SQ ( Social Quotient ), Entre-Q ( Entrepreneurship Quotient ).
Seseorang dengan kecerdasan emosi yang tinggi dapat memahami orang lain lebih baik dan membuat keputusan yang bijak. Kecerdasan emosi terkait erat dengan bagaimana seseorang dapat mengaplikasikan apa yang ia pelajari dan ketahui tentang kebahagiaan yang diinginkan. Bagimana mencintai dan berinteraksi dengan sesame. Sehingga secara otomatis, individu tersebut juga akan lebih bisa menghargai hidup dan lebih bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam hidup


Bulan Rajab....

Bulan Rajab merupakan salah satu bulan Muharram yang artinya dimulyakan (Ada 4 bulan: Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab). Puasa dalam bulan Rajab, sebagaimana dalam bulan-bulan mulya lainnya, hukumnya sunnah. Diriwayatkan dari Mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah bersabda "Puasalah pada bulan-bulan haram(mulya)." (Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad). Hadis lainnya adalah Riwayatnya al-Nasa'i dan Abu Dawud (dan disahihkan oleh Ibnu Huzaimah): "Usamah berkata pada Nabi saw, 'Wahai Rasulullah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunat) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Sya'ban.' Rasul menjawab: 'Bulan Sya'ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.'"

Menurut al-Syaukani (Naylul Authar, dalam bahasan puasa sunat) ungkapan Nabi "Bulan Sya'ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan kebanyakan orang" itu secara implisit menunjukkan bahwa bulan Rajab juga disunnahkan melakukan puasa di dalamnya.

Ada beberapa hadis lain yang menerangkan keutamaan bulan Rajab. Seperti berikut ini: 
"Barang siapa berpuasa pada bulan Rajab sehari maka laksana ia puasa selama sebulan, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya 7 pintu neraka Jahim, bila puasa 8 hari maka dibukakan untuknya 8 pintu sorga, dan bila puasa 10 hari maka digantilah dosa-dosanya dengan kebaikan."
Riwayat al-Thabrani dari Sa'id bin Rasyid: Barangsiapa puasa sehari di bulan Rajab maka laksana ia puasa setahun, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya pintu-pintu neraka Jahanam, bila puasa 8 hari dibukakan untuknya 8 pintu sorga, bila puasa 10 hari Allah akan mengabulkan semua permintaannya....."
"Sesugguhnya di sorga terdapat sungai yang dinamakan Rajab, airnya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis dari madu. Barangsiapa puasa sehari pada bulan Rajab, maka ia akan dikaruniai minum dari sungai tersebut".
Riwayat (secara mursal) Abul Fath dari al-Hasan, Nabi saw berkata: "Rajab itu bulannya Allah, Sya'ban bulanku, dan Ramadan bulannya umatku." 

Fenomena pergantian bulan di mata muslim adalah salah satu sarana untuk mengingat kekuasaan Allah swt dan dalam rangka untuk mengambil ibrah dalam kehidupan juga sebagai sarana ibadah.

Karena itu, pergantian bulan dalam bulan-bulan Hijrah kita disunnahkan untuk berdo’a, terutama ketika melihat hilal atau bulan pada malam harinya. Do’a yang diajarkan oleh Baginda Rasulullah saw. adalah:

اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِاْلأَمْنِ وَاْلإِيْمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَم رَبِّيْ وَرَبُّكَ اللهُ هِلاَلَ رُشْدٍ وَخَيْرٍ

“Ya Allah, Jadikanlah bulan ini kepada kami dalam kondisi aman dan hati kami penuh dengan keimanan, dan jadikanlah pula bulan ini kepada kami dengan kondisi selamat dan hati kami penuh dengan keislaman. Rabb ku dan Rabb mu Allah. Bulan petunjuk dan bulan kebaikan.” (HR. Turmudzi)

Banyak hadist dan ulama yang memiliki pendapat yang beda tentang kemuliaan bulan ini. Namun kita sebagai umat, janganlah menganggap perbedaan itu sebagai suatu perpecahan. Perbedaan adalah warna dalam mencari kebenaran. Rasulullah menjalani puasa di bulan Rajab, namun tidak penuh satu bulan. Kita sebagai umat hanya bisa meneladani apa yang Beliau amalkan. Huallahualam......

Jumat, 06 Juni 2008

Bangkitlah Islamku...

Di tengah gembar-gembor Kebangkitan Nasional. Ditengah semua orang mengkonsepkan kata “Indonesia BISA”. Sebenarnya apa yang sedang diupayakan? Apa yang sedang dicari? Apa yang hendak dituju oleh bangsa ini?

Gejolak dalam negeri tak kunjung reda. Belum habis berita banyaknya bermunculan aliran2 Islam yang tidak jelas dasar dan arahnya, manusia yang menjadikan dirinya sebagai nabi, demo dan pertentangan di mana-mana. Belum lagi habis suasana kenaikan BBM yang menimbulkan gejolak di hampir seluruh nusantara, yang berusaha untuk menolak. Kini diributkan lagi oleh aksi kekerasan yang terjadi pada insiden Monas beberapa waktu yang lalu.
Apakah ini Kebangkitan Nasional? Bangkit untuk menentang, bangkit untuk berbuat kekerasan antar sesama? Bangkit dari keterdiamannya dan bertindak anarkis?. Di mana dan bagaimana "Indonesia BISA" mengatasi hal tersebut?.

Indonesia adalah sebuah Negara hukum, Negara yang beragama. Tapi kapan Indonesia mampu membuktikan itu???? Hukum semakin tidak jelas wujud dan wibawanya. Agama sudah kian terporak-porandakan kemurniannya. Islam seperti komoditas yang selalu ter- exploitasi. Memanipulasi ajaran Islam yang begitu murni dan anggun serta kaya dengan tradisi dan sejarah pemikiran yang berisikan rahmatan lil-alamin. Di tangan kaum radikal, Islam tampil cemar, penuh darah dan kekerasan, serta mendiskriminasikan kaum perempuan.

Ketika perbedaan yang ada selalu diselesaikan dengan kekerasan, siapa sebenarnya yang patut bertanggung jawab? Bukankan pantas bila saya mengatakan ini tanggung jawab Pemerintah dan pihak Aparat. Jika saja demokrasi bisa ditegakkan, jika saja aparat bisa bertindak tegas. Besar kemungkinan segala kekacauan dapat diminimalisir. Kekacauan adalah pertanda demokrasi sudah mati. Sudah sedemikiankah kondisi demokrasi kita?

FPI atau AKKBB yang salah? Pandangan dan pendapat bisa saja berbeda, semua saya serahkan pada penilaian anda. Dalam tulisan ini saya hanya ingin mengajak kita semua berpikir. Berpikir untuk menilai sebuah kebenaran, yang bisa membawa kita untuk bisa mengambil sikap, demi kokohnya Islam di negara kita tercinta ini.
Takkan ada asap bila tak ada api? Semua peristiwa pasti ada sebab. Islam berasal dari kata Salama yang artinya keselamatan, kedamaian, keramah-tamahan, esensi Islam pada hakikatnya cinta damai, Islam yang teduh, Islam yang antikekerasan. Lantas apakah kita rela bila Islam yang begitu murni dinodai oleh tindakan anarkis oleh kelompok minoritas. Kelompok2 yang selalu menganggap dirinya paling banar, bertindak tanpa kompromi dan arogan dan emosi yang tak terkendali. Kaidah dan hakekat Islam seolah terbungkam oleh anarkisme yang berapi-api. Sudah sedemikiankah mereka harus bertindak?

Bukankah kemarahan manusia adalah keberhasilan setan dalam menguasai diri kita? Apakah benar kemarahan yang mereka rasakan itu demi membela Islam? Demi membela ajaran Allah SWT dan Rasulullah? Atau kemarahan mereka justru mencemarkan Islam dan ajarannya? Apakah diluar sana keyakinan lain tidak mentertawakan kita? Subhanallah….Malu! …yah, seharusnya kita malu dengan kejadian ini. Kita seolah menunjukkan betapa tercerai berainya Islam kita, betapa tidak sejalannya Islam kita, betapa keroposnya struktur Islam kita. Lantas dimana Ukhuwah Islamiyah yang selalu diajarkan pada generasi bangsa sejak awal masuk dunia sekolah?

Bagaimana kita harus menyikapi ini?
Islam harus bangkit. Saya rasa dengan kondisi bangsa dan agama kita yang seperti ini, tidak mudah terprovokasi adalah langkah yang lebih bijak. Bukannya tidak berpendirian. Namun karena semata-mata kini kita tidak lagi bisa membedakan mana yang benar, mana yang salah dan mana yang patut dipilih. .Dengan arogansi masing-masing merasa dirinya paling benar, paling diridhoi oleh Allah. Kata ALLAHU AKBAR menjadi begitu ringan diucapkan demi mencari kebenaran masing-masing dengan tanpa memahami makna.
Jalani hidup sesuai Islam yang kaffah, hindari organisasi yang kemungkinan bisa memicu kegiatan2 yang memecah belah umat. Sesuatu yang dalam prakteknya lebih banyak menimbulkan kemudharotan lebih baik kita tinggalkan jauh jauh.


Entri Populer

 
Blogger Templates